BEI Terapkan Aturan Baru Fraksi Harga Saham

Per tanggal 2 Mei 2016 BEI terapkan lima fraksi harga saham.

Mengenal Berbagai Tipe Investor

Anda termasuk tipe investor yang mana?

Tips Sebelum Pindah Bank KPR

Perhitungkan secara teliti apabila Anda akan memindahkan KPR ke bank lain.

Mesiasati Harga Jual-Beli Ketika Menjual Emas

Bagaimana menyiasati selisih/spread harga jual-beli emas ini agar kenaikan sesungguhnya yang akan kita peroleh tidak berkurang banyak?

Tips Menggunakan Kartu Kredit

Berikut ini informasi dan tips bagi Anda yang mempunyai atau ingin memiliki kartu kredit.

Selasa, 23 April 2013

Ketahui Profil Risiko Investasi Anda

Sebelum anda berinvestasi dahulu di reksadana, ada baiknya anda mengetahui dahulu profil risiko anda. Mengapa hal ini perlu? Agar anda dapat mengetahui tujuan investasi, seberapa besar tingkat risiko yang mampu anda hadapi, strategi investasi, dan produk investasi apa yang cocok untuk anda.


Berikut ini kuisioner singkat untuk mengetahui profil risiko anda.

1. Manakah diantara pernyataan dibawah berikut ini yang menggambarkan tingkat kenyamanan anda dalam menerima risiko investasi?
a. Saya tidak rnenyukai risiko dan tidak siap menerima hasil investasi yang negatif.
b. Saya bisa rnenerima risiko fluktuasi investasi dalam jangka pendek, selama tetap terkendali dan dalam trend pertumbuhan yang positif.
c. Saya bersedia menghadapi risiko fluktuasi yang tinggi guna mendapatkan pertumbuhan nilai investasi yang besar dalam jangka panjang.

2. Manakah pernyataan yang paling tepat untuk menggambarkan tujuan anda dalam berinvestasi?
a. Untuk memperoleh pendapatan berkala yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
b. Untuk memperoleh pendapatan berkala namun sekaligus dapat memperoleh pertumbuhan atas nilai investasi.
c. Untuk memperoleh pertumbuhan nilai investasi yang maksimal dalam jangka panjang.

3. Bagaimana pandangan anda mengenai kemungkinan anda kehilangan sebagian dari pokok investasi anda?
a. Saya tidak ingin menderita kerugian apapun dari investasi saya, karena akan mengganggu pendapatan bulanan saya.
b. Saya dapat menerima atas kemungkinan adanya resiko kerugian akibat dari fluktuasi investasi karena saya melakukan investasi jangka panjang.
c. Saya tidak berkeberatan dengan kemungkinan menderita kerugian karena saya telah menyediakan dana cadangan untuk kebutuhan rutin saya.

4. Berapa lama jangka waktu yang akan anda berikan agar uang anda berkembang?
a. Kurang dari 2 tahun.
b. Antara 2 sampai dengan 5 tahun.
c. Lebih dari 5 tahun.

5. Selama kurun waktu investasi tertentu nilal investasi anda dapat mengalami kenaikan atau penurunan. Seberapa besar tingkat fluktuasi yang dapat anda terima?
a. Antara -10% dan +10%
b. Antara -20% dan +20%
c. Antara -30% dan +30%

6. Dari keseluruhan harta (asset) yang anda miliki, berapa persen yang anda rencanakan untuk diinvestasikan dalam reksadana?
a. Kurang dari 35%
b. Antara 35% sampai 70%
c. Lebih dari 70%

7. Dalam investasi anda apakah anda membutuhkan aliran kas investasi yang bersifat reguler?
a. Va, setiap bulan.
b. Ya,setiap 6 bulan.
c. Tidak, saya tidak membatasi kurun waktu aliran kas, namun lebih berkonsentrasi pada tingkat imbal hasil.

8. Pada saat ini, seberapa jauh pemahaman Anda terhadap produk Reksa Dana dan industrinya?
a. Saya hanya mengetahui namun hanya terbatas bahwa Reksa Dana berbeda dengan produk-produk perbankan, dan di dalamnya mengandung risiko.
b. Saya cukup memahami mekanisme kerja Reksa Dana dengan baik, dan mengetahui perbedaan dari masing-masing jenis Reksa Dana.
c. Saya sangat memahami mekanisme kerja Reksa Dana, lembaga-Iembaga terkait seperti Bank Kustodian, Manajer Investasi, dan Bapepam-LK serta jenis-jenis produk Reksa Dana yang ada.

Setelah anda menjawab semua pertanyaan di atas, hitung total nilai anda dengan cara:

  • jika menjawab a mendapat nilai 20
  • jika menjawab b mendapat nilai 100
  • jika menjawab c mendapat nilai 200

Dari nilai tersebut cek tipe profil anda di bawah ini.

Tipe I. Konservatif ( Nilai < 320)
Investor kategori ini masih mementingkan tingkat keutuhan nilai pokok investasi, dan sangat rentan terhadap fluktuasi hasil investasi dan membutuhkan cash flow bulanan. Jenis investasi yang sesuai untuk kategori ini adalah instrumen Pasar Uang seperti Reksa Dana Pasar Uang dan Reksa Dana Pendapatan Tetap.

Tipe II. Konservatif Moderat ( Nilai antara 330 sampai 550)
Investor kategori ini masih tetap mementingkan pada keutuhan nilai pokok investasi, tetapi mulai bersedia untuk menerima fluktuasi investasi dalam jangka pendek untuk mendapatkan hasil yang lebih baik daripada produk reguler perbankan. Investor ini juga membutuhkan cash flow dalam setiap kurun waktu menengah ( 6 bulan ). Investor dalam kategori ini sebaiknya berinvestasi pada Reksa Dana Pasar Uang sebagai instrumen utama, dan sebagian pada Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan sedikit alokasi pada Reksa Dana Saham.

Tipe III. Moderat Agresif (Nilai antara 540 sampai 740)
Investor kategori ini mulai bersedia mencoba alternatif investasi yang berpotensi memberikan hasil yang lebih tinggi meskipun mengandung resiko dan fluktuasi atas nilai investasinya. Investor dalam kategori ini sebaiknya berinvestasi pada Reksa Dana Pendapatan Tetap sebaqai instrumen utama dan dikombinasikan sebagian pada Reksa Dana Campuran dan atau Reksa Dana Saham.

Tipe IV. Agresif (nilai > 750)
Investor kategori ini mengutamakan pada bagi hasil yang tinggi pada investasi mereka, dengan kesiapan menerima fluktuasi yang akan timbul. Kesiapan menerima resiko ini didukung pula oleh pola investasinya yang berorientasi jangka panjang. Jenis investasi yang sesuai dengan investor dalam kategori ini adalah kombinasi antara Reksa Dana Campuran dan Reksa Dana Saham.


Produk/Tipe I II III IV
Reksa Dana Pasar Uang 10% 10% 5% 5%
Reksa Dana Pendapatan Tetap 75% 65% 50% 40%
Reksa Dana Campuran 10% 15% 20% 25%
Reksa Dana Saham 5% 10% 25% 30%


Rabu, 17 April 2013

Harga Turun Tajam, Waktunya Membeli Emas?

Sebuah pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang paling sering muncul, apalagi saat ini harga emas sedang jatuh cukup dalam. Jawaban untuk pertanyaan diatas sebenarnya cukup sederhana, saat yang tepat untuk membeli emas adalah saat Anda mempunyai uang. Mengapa? Berikut penjelasannya.





1. Zero Inflation
Emas bersifat zero inflation. Zero inflation artinya nilai emas selalu tetap sampai kapanpun. Salah satu bukti bahwa Emas nol inflasi adalah harga 1 ekor kambing qurban dari sejak 1400 tahun yang lalu sampai saat ini tahun 2013 dan sampai kapanpun akan tetap 1 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram Emas 22 karat). Jika anda melihat pada grafik, harga Emas naik dari tahun ke tahun, hal sebenarnya yang terjadi adalah nilai mata uang kita yang makin turun nilainya.

Emas sebenarnya tidak begitu mendatangkan keuntungan bagi kita, namun membuat daya beli kita tetap sama sampai kapanpun. Jadi membeli Emas kapanpun adalah tepat, karena kita mengunci daya beli, seperti nilai 1 dinar yang tetap bisa membeli seekor kambing qurban sampai kapanpun.

2. Harga emas mengikuti harga komoditas dunia
Kenaikan atau penurunan biaya hidup biasanya dipengaruhi oleh harga komoditas-komoditas dunia tersebut, maka jika harga komoditas tersebut mampu di imbangi oleh harga emas maka kita tidak perlu kuatir, kita tetap bisa membeli barang/kebutuhan hidup kita, artinya jika harga Emas turun sebenarnya kita tidak pernah rugi,begitupun kalau harga emas naik kita sebenarnya tidak pernah untung.

Sebagai contoh harga minyak dunia, Tahun 1970 1 Toz Emas setara dengan 19 Barel minyak, Tahun 2013 1 Toz Emas masih mampu membeli 17 Barel minyak, tidak jauh berbeda bukan? Data tersebut sudah berlangsung selama hampir 45 Tahun

Dari 2 penjelasan di atas maka dapat disimpulkan waktu yang tepat untuk membeli Emas adalah saat anda memiliki dana, karena sifat nilai Emas yang tetap jadi mau membeli Emas kapanpun adalah tepat. Investasi Emas adalah investasi jangka menengah sampai panjang yaitu sekitar 3-5 Tahun, jadi beli Emas kapanpun dan dipergunakan untuk kebutuhan/keperluan 3-5 Tahun kemudian adalah langkah yang tepat dalam berinvestasi Emas.

Minggu, 07 April 2013

Membentuk Kondisi Keuangan yang Sehat


Memiliki keuangan yang stabil dan sehat adalah idaman setiap orang. Sayangnya, tidak semua orang bisa mewujudkan keinginan ini. Memiliki kondisi keuangan yang baik sebenarnya mudah saja. Rahasianya terletak pada kemauan dan disiplin. Pada dasarnya, merencanakan keuangan itu tergantung pada kebijakan kita dalam mengalokasikan anggaran yang ada. Membuat rincian keuangan dan taat pada “aturan main” yang telah kita tetapkan.


Berikut beberapa tips untuk memulai melakukan perencanaan keuangan.


1. Lakukan secara bertahap.
Seperti latihan olah raga, kita tidak bisa terlalu drastis merubah gaya hidup kita dalam sekejap. Seperti orang yang tidak pernah olahraga yang langsung mencoba melakukan 100 push-up, kita juga tidak mungkin mendadak rubah gaya hidup untuk hemat 50% pengeluaran untuk dialokasikan pada investasi & asuransi.

Lakukan latihan penghematan secara bertahap supaya kita bisa melakukannya dengan lebih tenang dan nyaman. Jangan memberikan tekanan psikologis terlalu besar pada diri Anda ketika baru belajar menata keuangan pribadi. Tekanan terlalu besar akan membuat Anda stres dan mudah menyerah di tengah jalan memperbaiki kebiasaan mengatur uang. Bila Anda bisa mengatur keuangan Anda secara nyaman maka Anda akan cenderung lebih bahagia dan termotivasi untuk melakukannya secara jangka panjang

2. Lakukan secara fokus dan spesifik.
Untuk mempermudah kita maka sebaiknya kita fokus pada 1 atau 2 hal dahulu. Coba fokus pada kelemahan kita dahulu, misal klo kita terbiasa boros maka kita fokus dulu untuk mengurangi pengeluaran, atau klo kita belum punya asuransi padahal banyak orang yang hidupnya bergantung pada kita maka kita fokus dulu di asuransi jiwa, atau misalnya kita sama sekali tidak mempunyai tabungan maka kita fokus pada dana darurat dan investasi.
Dengan demikian kita bisa mengatur keuangan kita dengan lebih tenang dan tidak terlalu membebani gaya hidup kita sehari-hari.

3. Anggap sebagai tantangan.
Lakukan latihan mengelola keuangan pribadi secara konsisten agar menjadi habit atau kebiasaan. Pakar olahraga mengatakan bahwa untuk menjaga kebugaran tubuh dibutuhkan olahraga secara rutin dan konsisten. Demikian juga di keuangan kita harus mengatur keuangan kita secara konsisten agar kondisi keuangan kita selalu prima.


4. Jaga Arus Kas.
Buat yang mau belajar mengatur keuangan biar dompet makin tebel adalah Harus bisa Jaga Arus Kas! Arus kas terdiri dari dua hal: pemasukan dan pengeluaran. Di pengeluaran tentu saja Anda ingin membuat pengeluaran Anda se-optimal mungkin supaya lebih kecil dari pemasukan.

Selain itu gunakan acuan ini untuk mengukur kesehatan arus kas Anda:
a. Maksimum cicilan hutang adalah 30% dari pemasukan.
b. Maksimum premi asuransi adalah 10%-15% dari pemasukan.
c. Minimum penambahan alokasi ke investasi adalah 10% dari pemasukan.

5. Selalu monitor perkembangan investasi Anda.
Mungkin Anda beranggapan bahwa secara jangka panjang nilai investasi pasti akan naik, sehingga seandainya turun Anda berasumsi bahwa penurunan hanya sebentar saja. Padahal tidak selalu demikian! Perlu disadari bahwa tidak ada produk investasi apapun di dunia ini yang naik selamanya. Bahkan investasi ‘teraman’ pun, emas, pernah mengalami stagnan kurang lebih 25 tahun baru bisa menembus angka yang lebih tinggi. Jadi apapun produk investasi Anda, sebaiknya Anda selalu memonitor bagaimana perkembangannya.


Rabu, 03 April 2013

Strategi Investasi Reksadana

Berinvestasi dalam Reksadana walau tidak serumit berinvestasi di pasar saham namun juga memiliki beberapa strategi yang bisa diterapkan. Bagi yang sudah profesional bisa menggunakan beberapa teknik analisa pasar. Namun untuk sekarang saya ingin mencoba membagikan beberapa strategi sederhana untuk memaksimalkan keuntungan investasi reksadana Anda.


1. Strategi 'tutup mata' cukup invest sekali dan simpan dalam jangka waktu yang panjang disebut Lump Sum.

2. Strategi investasi secara berkala, cocok bagi yang berpenghasilan tetap.
- dengan nominal investasi tetap disebut Dollar Cost Averaging (DCA).
- dengan membeli jumlah unit reksadana yang sama disebut Constant Share (CS).
- dengan jumlah tertentu memiliki tujuan pertambahan nilai investasi atau prosentase yang tetap disebut Value Averaging (VA).

1. Lump Sum

Adalah strategi investasi dengan menempatkan seluruh dana kita pada produk reksadana di awal.

Keuntungan dari strategi ini adalah kesederhanaanya, bilamana kita yakin bahwa investasi reksadana kita akan bertumbuh positif ke depannya maka kita akan tempatkan seluruh dana ke dalam reksadana tersebut.

Bagaimana bila kinerja investasi tidak sesuai dengan keinginan kita? Ada beberapa pilihan yang bisa diambil:
- Hold, dengan pertimbangan reksadana tsb akan kembali sesuai harapan investor.
- Switch, investasi kita pindahkan ke produk reksadana yang berbeda.
- Redeem, jual unit reksadana dan masuk kembali disaat yang menurut kita lebih sesuai.

2. Dollar Cost Averaging (DCA)

Adalah strategi dalam berinvestasi yang paling sering digunakan karena kesederhanaan dan cukup efektif dalam menurunkan rata-rata modal dari pembelian unit reksadana kita. Jangan bingung dengan kata-kata 'Dollar' karena strategi ini cocok di segala jenis mata uang termasuk Rupiah.

Caranya adalah melakukan investasi secara berkala dengan jumlah dana yang sama pada setiap kali investasi (misalnya: Rp.5 juta per bulan atau Rp.25 juta per kuartal) pada satu produk reksadana.

Strategi sederhana ini sangat efektif dimana kita invest lebih banyak saat harga rendah dan lebih sedikit saat harga tinggi.

Ilustrasi:
1. Target kita adalah investasi Rp.25 juta (jumlah yg tetap) per kuartal/3 bulan (jadwal yang tetap). Kita invest Rp.5 juta saat nilai NAB 2200, kemudian Rp.10 juta saat nilai NAB 2150 dan Rp.10 juta saat NAB 2100.
2. Bila kita lakukan di reksadana saham dan melakukan investasi berdasarkan IHSG yang berkorelasi dengan RDS. Bisa kita invest dengan jumlah diatas setiap nilai indeks minus 50 poin dengan tidak melewati jadwal yang kita tetapkan sendiri.


3. Constant Share (CS)

Ini strategi yang mudah dijelaskan. Investasikan dana untuk membeli reksa dana secara berkala dengan pembelian jumlah unit RD yang sama. Perbedaannya dengan DCA jika CS melakukan investasi bukan dengan jumlah dana yang sama tapi membeli jumlah unit RD yang sama secara berkala.

Misalkan kita menargetkan akan melakukan investasi: setiap kali top up adalah 100 unit per 3 bulan, sama seperti strategi DCA diatas bisa kita bagi jumlah tersebut mejadi 3x top up dan membeli jumlah unit lebih banyak saat harga NAB lebih murah.

4. Value Averaging (VA)

Tujuan strategi ini adalah agar pertambahan nilai (value) investasi kita adalah tetap. Bisa dihitung dalam rupiah ataupun persentase.

Pertumbuhan investasi dalam nilai yang tetap
Bila kita berencana investasi dg target setiap bulan akan bertambah 10 juta rupiah, maka diatur pertumbuhan nilainya tetap sebesar Rp.10 juta.

Bila nilai investasi kita pada bulan ini bertumbuh Rp.1 juta maka kita cukup top up Rp.9 juta.
Bila nilai investasi kita pada bulan ini berkurang Rp.500rb, maka kita harus top up Rp.10,5 juta, dan dilanjutkan untuk periode-periode selanjutnya

Pertumbuhan investasi dalam persentase yang tetap
Perhitungan menggunakan persentase biasanya dilakukan untuk menjaga peningkatan investasi kita terhadap inflasi (turunnya nilai mata uang), dan memiliki efek compound interest.

Jadi bila kita berencana investasi dengan target setiap bulan akan bertambah 10%, maka diatur pertumbuhan nilainya tetap sebesar (1+10%) x investasi pada awal bulan I, dan seterusnya.

Bila nilai investasi kita pada akhir bulan bertumbuh 2% maka kita cukup top up 8%
Bila nilai investasi kita pada bulan ini minus 1% dibandingkan awal bulan, maka kita harus top up 11%.. dan dilanjutkan untuk periode-periode selanjutnya.