Minggu, 20 April 2014

Prospek Reksadana Syariah

Saat ini kondisi saham di beberapa negara mengalami penurunan, termasuk sektor perbankan. Sebagai alternatif investasi, nampaknya sektor syariah patut dilirik.


Syahril Simon, Head of Asset Management Group Islamic Bank Division CIMB Investment Bank Berhard, menuturkan selama satu dekade terakhir (2000-2010) kapitalisasi pasar produk investasi syariah tumbuh 13,6%. Selama krisis keuangan global dana kelolaan reksadana syariah mampu tumbuh sebesar 5% pada 2008-2009. Syahril lebih menyarankan investasi di reksa dana syariah yang mampu lebih survive terlepas dari kondisi fundamental.
Syahril memperkirakan dalam satu dekade ke depan kapitalisasi produk investasi syariah masih bisa tumbuh sebesar 10,6%, namun total dana kelolaan dari reksa dana syariah berpotensi membukukan pertumbuhan 20,7% untuk periode yang sama karena memang bobotnya masih kecil.
Sementara itu Cholis Baidowi, Fund Manager PT CIMB Principal Asset Management menambahkan, reksa dana syariah dapat unggul karena tidak memiliki saham perbankan. Sebagai contoh, Cholis menjelaskan mengenai kebijakan BI dalam memperketat kebijakan fiskal seperti pembatasan Loan to Deposit Ratio (LDR) menjadi 92% dan naiknya giro wajib minimum ke 4% akan memperlambat pertumbuhan pinjaman perbankan yang berakibat pada berkurangnya pendapatan.
Jika Anda melihat lebih jauh sektor perbankan memiliki bobot yang besar di IHSG sekitar 25%. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan lebih lambat pada IHSG dibandingkan dengan Jakarta Islamic Index (JII).
Selain itu, saham dengan tingkat hutang yang tinggi di atas 45% tidak akan masuk ke dalam daftar saham syariah, dimana saham-saham tersebut mendapat tekanan dari tingkat suku bunga yang terus naik atas tingginya inflasi.

0 comments: