BEI Terapkan Aturan Baru Fraksi Harga Saham

Per tanggal 2 Mei 2016 BEI terapkan lima fraksi harga saham.

Mengenal Berbagai Tipe Investor

Anda termasuk tipe investor yang mana?

Tips Sebelum Pindah Bank KPR

Perhitungkan secara teliti apabila Anda akan memindahkan KPR ke bank lain.

Mesiasati Harga Jual-Beli Ketika Menjual Emas

Bagaimana menyiasati selisih/spread harga jual-beli emas ini agar kenaikan sesungguhnya yang akan kita peroleh tidak berkurang banyak?

Tips Menggunakan Kartu Kredit

Berikut ini informasi dan tips bagi Anda yang mempunyai atau ingin memiliki kartu kredit.

Tampilkan postingan dengan label reksadana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reksadana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2017

Review Hasil Investasi Tahun 2016

Di tahun 2016 kita ketahui banyak terjadi berbagai gejolak kondisi ekonomi dan politik. Dari sisi politik tentu saja bertepatan dengan pilpres AS, demo di Jakarta, dan pilgub DKI Jakarta yang mampu mengubah pikiran investor untuk menarik sementara investasi dan mengambil posisi wait and see.

Dari segi ekonomi, perubahan suku bunga The Fed juga turut mengganggu iklim investasi saham dalam negeri. Pelemahan ekonomi secara global juga turut andil. Untungnya program pemerintah yang menggalakan pembangunan infrastruktur dalam negeri sedikit menolong kondisi investasi di tahun 2016.

Berikut hasil rangkuman rata-rata pertumbuhan berbagai macam investasi selama tahun 2016.

Indeks Reksadana Saham: 5,04%
Indeks Reksadana Campuran: 7,92%
Indeks Reksadana Pendapatan Tetap: 8,19%
Indeks Harga Saham Gabungan: 11,16%
Indeks Obligasi Pemerintah: 10,49%
Indeks Obligasi Korporasi: 9,6%
Indeks Obligasi Syariah: 6,99%
Logam Mulia: 4,52%
Bank Deposito: 6,5%

Senin, 29 Desember 2014

Review Pencapaian Intrumen Investasi Tahun 2014

Tahun 2014 sudah hampir berakhir, dan tahun 2015 sudah di depan mata. Bagaimana kondisi portofolio investasi Anda sampai akhir tahun ini? Apakah menghasilkan keuntungan?



Berikut ini data prosentase pergerakan beberapa instrumen investasi sepanjang tahun 2014. Khusus reksadana yang disajikan adalah tiga terbaik di setiap jenisnya. Diharapkan dengan data ini Anda bisa menata kembali komposisi investasi Anda dan menentukan strategi investasi di tahun 2015.

Logam Mulia Antam 10gr  -0.19%


Valuta Asing USD-IDR 1.98%

Indeks Harga Saham Gabungan 22.17%

Resadana Pasar Uang
Bahana Dana Likuid 9.12%
Manulife Flexinvest Plus 8.42%
RHB OSK Money Market Fund 8.32%

Reksadana Pendapatan Tetap
Eastspring Investments Yield Discovery 14.97%
Mega Dana Pendapatan Tetap 13.96%
Mega Asset Mantap Plus 12.67%


Reksadana Campuran
Pratama Berimbang 45.91%
Kresna Flexima 41.65%
Nikko BUMN Plus 31.49%


Reksadana Saham
Dana Pratama Ekuitas 48.04%
Simas Saham Unggulan 43.37%
Pratama Saham 42.27%

Sumber: odnv.co.id, infovesta.com, bloomberg.com

Senin, 07 Juli 2014

Mengenal Istilah Investasi Reksa Dana

Dalam dunia investasi, khususnya investasi reksadana ada banyak istilah-istilah yang mungkin masih asing di telinga orang awam. Sebelum Anda berinvestasi di reksa dana, sebaiknya Anda mengetahui beberapa istilah-istilah berikut ini.





1. Reksa Dana
Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal dari investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar keuangan dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.


2. MI (Manajer Investasi)
Adalah pihak managemen profesional yang mengelola portofolio untuk para nasabah atau portofolio Kontrak Investasi Kolektif untuk sekelompok nasabah, perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. KIK (Kontrak Investasi Kolektif)
Adalah kontrak antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian tentang pengelolaan portofolio investasi secara kolektif.

4. Bank Kustodian
Merupakan bank yang memberikan jasa penitipan Efek dan harta lain yang masih berkaitan dengan Efek. Bank Kustodian juga berfungsi sebagai pihak yang menyelesaikan transaksi efek, dan mewakili investor sebagai pemegang rekening yang menjadi nasabahnya, serta melaporkan seluruh aktivitasnya sebagai kustodian kepada investor.

5. Biaya Jual dan Beli
Biaya yang timbul dari proses jual-beli reksa dana, dan jumlahnya bervariasi tergantung dari kebijakan masing-masing MI.

6. Management Fee
Biaya yang diberikan ke sejumlah pihak yang terkait dengan pengelolaan reksadana, seperti biaya jasa MI, notaris, akuntan publik, Bank Kustodian, dan sebagainya.

7. UP (Unit Penyertaan)
Unit Penyertaan merupakan satuan dari investasi reksa dana dan setiap unit mempunyai harga tertentu yang disebut NAB/UP. Jika investor berinvestasi di reksa dana dengan kata lain investor membeli UP.


8. NAB (Nilai Aktiva Bersih)
Adalah angka yang menyatakan besar nilai aset/dana yang dikelola dari sebuah produk reksa dana.

9. Subscription & Redemption
Sesuai dengan namanya, subscription adalah pembelian reksa dana (lebih tepatnya pembelian UP), sedangkan redemption adalah penjualan atau pencairan UP.

10. Pengalihan
Merupakan tindakan pemegang UP  untuk mengalihkan sebagian atau seluruh UP yang dimilikinya ke produk reksa dana lainnya yang dikelola oleh MI.

11. Prospektus
Prospektus berisi informasi profil perusahaan dan laporan tahunan dijadikan dokumen resmi oleh MI untuk memberikan gambaran mengenai investasi yang ditawarkan kepada investor.


12. IPO (Initial Public Offering)
Initial Public Offering merupakan penawaran yang dilakukan pertama kali oleh sebuah perusahaan yang membuka sahamnya kepada khalayak umum. Ini juga biasanya dikenal dengan istilah go public.

13. Emiten
Emiten adalah perusahaan yang bertugas menerbitkan saham atau obligasi.

14. Right Issue
Adalah proses bagi sebuah perusahaan yang sudah go public untuk mengeluarkan saham baru.

15. Efek
Adalah sebutan lain untuk surat berharga seperti surat hutang, saham, obligasi, tanda bukti hutang, reksa dana dan semua turunannya.

16. Capital Gain
Adalah keuntungan yang terjadi akibat adanya selisih positif dari harga pembelian dengan harga jual.


Minggu, 25 Mei 2014

Dana Kelola Reksadana Syariah Terus Menyusut

Dana kelolaan reksadana syariah mengalami penyusutan dari Rp 9,43 triliun di akhir 2013 menjadi Rp 8,96 triliun di akhir April 2014. Produk reksadana syariah juga berkurang dari 65 reksadana menjadi 62 reksadana pada periode yang sama.


Menurunnya dana kelolaan reksadana syariah selama 2014 dipicu terutama karena pembubaran sejumlah produk reksadana syariah terproteksi. Analis Infovesta Utama Viliawati menyebutkan pembubaran reksadana terproteksi berkontribusi sekitar Rp 400 miliar terhadap penurunan dana kelolaan reksadana syariah.

Villia mengatakan penurunan dana kelolaan juga disebabkan adanya penarikan dana atau redemption yang cukup signifikan pada reksadana indeks dan reksadana saham syariah. Dia memperkirakan redemption disebabkan investor melakukan aksi ambil untung atau profit taking pada kedua reksadana tersebut.

Sejumlah faktor disebut menjadi pemicu kurang berkembangnya industri reksadana syariah. Diantaranya, ujar Villia, masih minimnya jumlah produk reksadana syariah dibandingkan reksadana konvensional. Selain itu juga secara umum kinerja reksadana non syariah lebih menarik dibandingkan reksadana syariah.

OJK mencatat, total produk reksadana syariah hanya mencapai 62 produk pada April 2014 atau hanya sekitar 7,7% dari total produk reksadana yang mencapai 805 produk.

Minggu, 20 April 2014

Prospek Reksadana Syariah

Saat ini kondisi saham di beberapa negara mengalami penurunan, termasuk sektor perbankan. Sebagai alternatif investasi, nampaknya sektor syariah patut dilirik.


Syahril Simon, Head of Asset Management Group Islamic Bank Division CIMB Investment Bank Berhard, menuturkan selama satu dekade terakhir (2000-2010) kapitalisasi pasar produk investasi syariah tumbuh 13,6%. Selama krisis keuangan global dana kelolaan reksadana syariah mampu tumbuh sebesar 5% pada 2008-2009. Syahril lebih menyarankan investasi di reksa dana syariah yang mampu lebih survive terlepas dari kondisi fundamental.
Syahril memperkirakan dalam satu dekade ke depan kapitalisasi produk investasi syariah masih bisa tumbuh sebesar 10,6%, namun total dana kelolaan dari reksa dana syariah berpotensi membukukan pertumbuhan 20,7% untuk periode yang sama karena memang bobotnya masih kecil.
Sementara itu Cholis Baidowi, Fund Manager PT CIMB Principal Asset Management menambahkan, reksa dana syariah dapat unggul karena tidak memiliki saham perbankan. Sebagai contoh, Cholis menjelaskan mengenai kebijakan BI dalam memperketat kebijakan fiskal seperti pembatasan Loan to Deposit Ratio (LDR) menjadi 92% dan naiknya giro wajib minimum ke 4% akan memperlambat pertumbuhan pinjaman perbankan yang berakibat pada berkurangnya pendapatan.
Jika Anda melihat lebih jauh sektor perbankan memiliki bobot yang besar di IHSG sekitar 25%. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan lebih lambat pada IHSG dibandingkan dengan Jakarta Islamic Index (JII).
Selain itu, saham dengan tingkat hutang yang tinggi di atas 45% tidak akan masuk ke dalam daftar saham syariah, dimana saham-saham tersebut mendapat tekanan dari tingkat suku bunga yang terus naik atas tingginya inflasi.

Senin, 24 Februari 2014

BI Rate Naik, Danareksa Terbitkan Reksadana Pasar Uang

Penetapan suku bunga acuan bank atau BI rate sebesar 7,5% menjadi peluang bagi Manager Investasi (MI) untuk menarik nasabah baru. Danareksa yang melihat peluang ini menerbitkan produk baru untuk reksadana pasar uang.


Danareksa Gebyar Dana Likuid II merupakan lanjutan dari produk Danareksa sebelumnya yaitu Danareksa Gebyar Dana Likuid. Direktur Danareksa, Prihatmo Hari Mulyanto menyatakan, peluncuran produk baru ini atas pertimbangan masih banyak investor potensial yang belum terserap pada reksadana pasar uang. Mayoritas karakteristik investor di Indonesia adalah investasi dengan risiko rendah, seperti menempatkan dana di deposito.

Sebelumnya, Danareksa memiliki dua produk reksadana pasar uang. Yakni Danareksa Gebyar Dana Likuid dan Danareksa Seruni Pasar Uang II. Danareksa Gebyar Dana Likuid dengan Danareksa Gebyar Dana Likuid II tidak memiliki perbedaan signifikan. Untuk produk baru ini, tidak disebutkan target return reksadana. Sebagai pembanding, data dari Infovesta menyebut return Danareksa Gebyar Dana Likuid sebesar 4,3% year on year per 16 Januari 2014.

Untuk target dana kelolaan Danareksa Gebyar Dana Likuid II dipatok Rp 1 triliun hingga akhir 2014. Danareksa mulai menawarkan Danareksa Gebyar Dana Likuid II pada awal Februari 2014.

Danareksa yakin, imbal hasil reksadana tersebut masih menjanjikan, meskipun BI rate turun. Sebab, apabila bunga deposito tak menarik, penempatan dana kelolaan bisa dialihkan pada obligasi dengan tenor pendek yang kurang dari setahun. Hari memprediksi, penurunan BI rate akan terjadi pada semester II-2014.

Rabu, 08 Januari 2014

PPh Bunga Reksadana Obligasi Tetap 5%

Akhir tahun lalu para investor dan manager investasi reksadana harap-harap cemas dengan rencana kenaikan PPh reksadana sebesar 15%. Dengan ditandatanganinya revisi Peraturan Pemerintah (PP) nomor 16/2009, maka investor reksadana dapat bernafas lega karena pajak yang dikenakan terhadap reksadana dengan aset dasar obligasi tetap 5%.



Sejak pemerintah menerbitkan PP nomor 16/2009 tentang PPh atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi, pelaku investasi reksadana menjadi khawatir. Detail peraturan menyebutkan investor akan dikenakan PPh 5% pada 2011-2013 dan kemudian akan ditingkatkan menjadi 15% pada tahun 2014.

Namun angka 15% dinilai para pelaku investasi terlalu tinggi dan dapat mengganggu iklim investasi reksadana. Hal ini bisa menghambat pertumbuhan industri reksadana. Oleh karena itu, para pelaku pasar terus mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membujuk pemerintah agar menunda aturan tersebut.

"Kami melihat industri reksadana masih perlu diberikan insentif untuk berkembang lebih baik. Jadi, kalau dikenakan pajak bunga obligasi 15%, dikhawatirkan produk ini tidak menarik lagi karena biayanya terlalu tinggi," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida.

Direktur Utama Agus B. Yanuar dari PT Samuel Aset Manajemen menyatakan membeli reksadana berbasis obligasi memerlukan modal yang lebih kecil bila dibandingkan dengan membelinya langsung di pasar. Bagi investor ritel, reksadana obligasi merupakan pilihan yang paling ideal untuk berinvestasi di pasar surat utang dengan modal minim.

"Produk obligasi ritel pemerintah saja masih memerlukan minimum investasi yang cukup besar. Tidak semua investor ritel mampu beli. Oleh karena itu, prospek reksadana obligasi ke depan masih sangat menjanjikan," ujarnya.

Senin, 16 Desember 2013

Reksadana Saham Performa Terbaik 2013

Berikut ini reksadana saham dengan kinerja terbaik selama tahun 2013, hingga bulan November. Semoga data ini bisa menjadi acuan untuk Anda yang ingin investasi reksadana saham di tahun 2014.


10 Rekasana Saham Terbaik 2013 periode 1 tahun
Reksadana
NAB/UP
Performa 1 tahun (%)


Pratama Equity
1,625.93
29.61
Sam Indonesian Equity Fund
1,709.68
19.74
Pratama Saham
4,356.02
18.47
Archipelago Equity Growth
1,298.73
16.98
Grow-2-Prosper
2,432.01
14.29
Dana Pratama Ekuitas
6,310.52
13.73
First State Indoequity High Conviction Fund
1,073.69
11.86
Batavia Dana Saham Optimal
2,171.03
9.94
Panin Dana Prima
2,900.14
6.58


10 Reksadana Saham Terbaik 2013 periode 3 tahun
Reksadana
NAB/UP
Performa 3 tahun (%)
Millenium Equity
2,567.53
65.51
Emco Mantap
6,189.37
58.25
MNC Dana Ekuitas
3,156.58
45.11
Cipta Syariah Equity
1,838.62
34.07
Lautandhana Equity Progresif
807.92
32.99
Pratama Equity
1,625.93
26.17
BNP Paribas Pesona Syariah
2,148.39
25.87
HPAM Ultima Ekuitas 1
1,543.42
25.86
Trim Syariah Saham
1,344.52
24.36
Panin Dana Prima
2,900.14
22.96

Sumber: Infovesta

Minggu, 11 Agustus 2013

Mengenal Reksadana Syariah


Berawal dari krisis tahun 2008 membuat banyak orang mempertanyakan system ekonomi kapitalis yang selama ini dianggap paling hebat ternyata bisa ambruk juga. Efek krisis ekonomi yang dimulai dari Negara AS sebagai pusat ekonomi kapitalis menjalar ke semua negara termasuk Indonesia. Akibat dari krisis tersebut beberapa negara mulai mencari system ekonomi yang ideal yang dapat menggantikan system ekonomi kapitalis, dan mereka menemukan system ekonomi Islam atau syariah adalah system ekonomi yang ideal.


Definisi Reksa Dana Syariah

Pada prinsipnya reksadana syariah sama dengan reksadana konvensional hanya saja dalam pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah dipasar modal. Sesungguhnya berinvestasi merupakan bagian dari Islamic wealth management yang diklasifikasikan pada Wealth Accumulation (akumulasi kekayaan) tentunya dengan berlandaskan kepada Alquran dan Hadist dengan nilai-nilai kejujuran, keadilan dan bermanfaat bagi sesama.

Perkembangan Reksa Dana (RD) Syariah

Pada reksadana syariah (RD Syariah), pemilihan instrument investasi harus berdasarkan DES (Daftar Efek Syariah) yang diterbitkan oleh DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia) yang bekerjasama dengan BAPEPAM-LK. DES dikeluarkan setahun 2 kali dalam periode akhir Mei dan November. Per 31 Mei 2011, saat ini baru terdapat 11 SBSN (Surat Berharga Syariah Negara), Sukuk/Obligasi Syariah (OS) = 30 seri, Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Reksa Dana Syariah 49 unit (baru 7,75 persen dari seluruh reksa dana yang ada), yang terdiri dari:
• Reksa dana Saham Syariah 10 unit;
• Reksa dana Campuran Syariah 15 unit;
• Reksa dana Pendapatan tetap Syariah 8 unit;
• Reksa dana Indeks Syariah 1 unit;
• Reksa dana Terproteksi Syariah 3 unit.

Dengan total NAB RD Syariah Rp 5,775 Triliun (3,68 persen dari seluruh NAB Reksadana) dengan komposisi:
• RD syariah campuran Rp 1,076 T;
• RD Syariah Indeks Rp 205,49 M;
• RD Syariah Pendapatan Tetap Rp 465,698 M;
• RD Syariah Saham Rp  1,8 T;
• RD Syariah Terproteksi Rp  2,227 T.

Emiten syariah yang tercatat di bursa 213 emiten, Perusahaan publik syariah 3 emiten, Emiten syariah tidak listing 9 emiten, Total Daftar  Efek Syariah 225 Emiten.

Kebijakan Investasi Reksa Dana Syariah

Kebijakan investasi reksa dana syariah yakni hanya berinvestasi pada perusahaan dengan kategori halal,  dan memenuhi rasio keuangan tertentu. Halal yang dimaksud adalah perusahaan tersebut tidak memproduksi atau menjual sesuatu yang haram menurut Islam, seperti menjual daging babi, minuman keras, bisnis hiburan maksiat, judi, pornografi, dsb, tidak merugikan orang banyak, tidak merugikan orang dan bersifat mudarat (rokok), tidak boleh investasi pada portfolio yang yang bersifat riba (Adanya bunga), bukan judi (maysir), perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang, perdagangan dengan penawaran dan permintaan palsu (bay al najsy), jual beli mengandung ketidakpastian (gharar) dan spekulatif, serta transaksi suap (risywah).

Memenuhi rasio keuangan tertentu, maksudnya total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 82 persen yang berarti modal 55 persen dan utang 45 persen, total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10 persen.

Kebijakan Investasi reksadana syariah hanya dapat dilakukan pada instrumen keuangan yang sesuai dengan Syari’ah Islam, meliputi:
  • Efek Pasar Modal Syariah: Obligasi Syariah (Sukuk); Saham-saham yang masuk dalam DES (Daftar Efek Syariah), serta efek surat hutang lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah.
  • Instrumen Pasar Uang Syariah: Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) - Sertifikat Investasi Mudharabah Antar-Bank (SIMA) - Certificate of Deposit Mudharabah Mutlaqah (CD Mudharabah Mutlaqah) - Certificate of Deposit Mudharabah Muqayyadah (CD Mudharabah Muqayyadah)

Alasan Investasi Reksa Dana Syariah

Berikut macam-macam alasan orang untuk berinvestasi di Reksa Dana syariah: ingin berinvestasi di pasar modal tapi waktu terbatas, ingin berinvestasi tapi pengetahuannya masih belum memadai, sementara kebutuhan investasi tidak boleh ditunda-tunda, kurang akses atas informasi yang tersedia dipasar modal, ingin mempunyai return yang optimal atau bahkan mengalahkan return pasar namun dana yang terbatas, ingin diversifikasi investasi, ingin memenuhi kebutuhan jangka pendek, menengah atau panjang dan kesemuanya itu untuk mencapai kebebasan financial secara syariah, ingin berinvestasi tapi sesuai dengan tuntunan agama, alasan lainnya karena syariah memberikan tingkat stabilitas yang tinggi.

Keuntungan Investasi Reksa Dana Syariah

Berikut beberapa keuntungan jika berinvestasi pada reksa dana syariah antara lain:

1. Dikelola oleh manajemen professional
Tidak sembarang orang dan perusahaan boleh mengelola reksa dana. Untuk perorangan harus mempunyai ijin sertifikasi Wakil Manajer investasi. Untuk perusahaan harus mempunyai ijin Manajer Investasi, memenuhi syarat permodalan untuk mendirikan perusahaan manajer investasi, menjalani fit & proper test oleh BAPEPAM & LK untuk manajemen perusahaan dan secara berkala juga diaudit oleh BAPEPAM & LK; mempunyai SDM yang handal untuk mendukung setiap unit kerja di perusahaan manajer Investasi, dan tentunya SDM tersebut harus mengerti tentang syariah dan pengelolaan investasi secara syariah.

2. Transparan
Semua informasi mengenai kinerja investasi harian bisa dipantau di media masa. Setiap bulan nasabah akan diberikan laporan kinerja investasi seperti rekening koran dan kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet).

3. Terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS)
Fungsi dari DPS adalah mengawasi dan memberikan pengarahan agar pengelolaan Reksa Dana sesuai dengan prinsip syariah yaitu jujur, berkeadilan dan bermanfaat bagi sesama.

4. Kemudahan berinvestasi
Banyak perusahaan manajer investasi/Asset Management dengan minimum pembelian Rp 100.000 - Rp 250.000 anda sudah bisa berinvestasi di Reksa Dana. Saat ini produk reksa dana syariah sudah tersedia sebesar 49 reksadana.

5. Diversifikasi
Untuk menghasilkan return yang optimal maka Anda harus mendiversifikasikan portfolio investasi Anda dengan cara membeli beberapa saham di sektor yang berbeda, membeli obligasi dan menaruhnya juga dipasar uang dengan tingkat return yang optimal. Pola diversifikasi semacam itu mensyaratkan nilai portfolio investasi yang tinggi.

Lalu bagaimana jika Anda yang memiliki dana terbatas? Reksa Dana adalah solusinya. Karena hakikatnya Reksa Dana adalah dana yang dihimpun dari orang-orang yang menginginkan investasi maka menghasilkan dana kelolaan yang besar. Dan hasil dari investasi yang optimal tersebut lalu dibagikan kepada investor sesuai dengan porsi investasinya tentu saja setelah dipotong oleh biaya-biaya yang telah disyaratkan oleh Manajer Investasi. Biaya-biaya ini pun tak besar karena untuk biaya pun tanggung renteng sesuai dengan porsi investasinya dan meniadakan biaya yang tak perlu lainnya jika investasi tersebut dilakukan seorang diri oleh investor. Ini salah satu sebabnya kinerja Reksa Dana lebih optimal dibanding jika investor harus berinvestasi sendiri.

6. Likuiditas yang tinggi
Apabila investor ingin menarik investasinya dikarenakan membutuhkan dana untuk keperluan yang lain ataupun ingin melakukan realisasi keuntungan maka bisa dicairkan atau ditarik kapan saja.

7. Biaya investasi cenderung rendah
Jika investor bertransaksi saham sendiri perhatikan biaya yang dibebankan oleh sekuritas seperti biaya transaksi minimal kisarannya adalah Rp 10.000-Rp 15.000. Namun ada juga yang membebankan keseluruhan biaya transaksi  dan ada yang per saham. Selain itu jika Anda menginginkan untuk melakukan transaksi obligasi syariah (Sukuk) maka nilai yang investasi yang ditawarkan minimal Rp 1 miliar kalaupun ada Sukuk Ritel (SUKRI) maka pembelian 1 unit minimal Rp 5 juta. Pertanyaan selanjutnya bagaimana jika Anda menginginkan investasi rutin dibawah Rp 5 juta maka Anda tidak bisa membeli Sukuk maupun Sukri.

Bandingkan dengan inflasi yang saat ini ada dikisaran 4,61 persen. Untuk Deposito diatas Rp 500 juta bank bisa memberikan bagi hasil 9 persen gross. Bandingkan jika yang mengelola adalah manajer investasi maka biaya investasinya akan rendah dengan hasil yang optimal.

8. Lebih aman dan cenderung stabil
Seperti telah dijelaskan diatas, rasio dengan batas 82 persen memberikan jaminan bahwa perusahaan memiliki struktur modal yang sehat dengan perbandingan utang tidak boleh lebih besar dari modal. Pada obligasi/sukuk mempunyai underlying asset yang jelas sehingga resiko default kecil sekali atau bahkan sama sekali tidak ada.  Dengan demikian melalui mekanisme rasio kuantitatif, Reksadana Syariah terselamatkan dari penurunan NAB yang tajam.
Untuk Obligasi Syariah dengan mekanisme underlying (ada nilai pokok yang dijadikan dasar penerbitan obligasi), investor dengan sendirinya merasa yakin bahwa obligasi syariah relatif aman sehingga banyak diinginkan oleh investor baik yang mengharuskan portfolio investasinya di syariah maupun tidak (konvensional). Umumnya yang memegang obligasi syariah adalah institusi syariah dan mereka pada umumnya memegang sampai tanggal jatuh tempo (hold to maturity) sehingga gejolak harganya relatif stabil.

9. Membantu perekonomian bangsaPada penerbitan SUKRI, negara bisa memanfaatkannya sehingga biaya pemerintah jadi lebih kecil, sedang pada perusahaan biasanya hasil penjualan sukuk dipakai untuk modal kerja perusahaan.

Resiko Investasi Reksa Dana Syariah

Seperti pada reksadana konvensional, investasi pada reksadana syariah pun mempunyai resiko, antara lain:
  • Risiko penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB)
  • Risiko Likuiditas jika terjadi pencairan dalam jumlah yang besar secara bersamaan
  • Risiko perubahan ekonomi dan politik dan peraturan perpajakan
  • Risiko terjadinya wanprestasi
  • Risiko Pembubaran


Reksa Dana Syariah Untuk Semua Kalangan

Syariah itu bukan ”Keyakinan” melainkan ”System Ekonomi” yaitu dengan mengedepankan prinsip kejujuran, keadilan dan bermanfaat bagi sesama itu menjadi nilai-nilai dasar kemanusiaan apapun agamanya dan berasal dari suku manapun.

Prinsip tanpa RIBA juga tidak hanya ada didalam Islam tapi juga di Nasrani, Yahudi dan agama lainnya. Silahkan cek pada kitab agama masing-masing. Tidaklah heran jika saat ini perkembangan syariah khususnya reksadana syariah sudah sampai ke Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, China, Hongkong dan banyak negara lainnya yang bukan mayoritas beragama Islam tetapi memakai konsep dasar syariah dalam pengelolaan keuangan dan Investasi.

Lebih dari itu di London sudah terlebih dahulu ada FTSE Global Islamic Index dan di Amerika Serikat sudah ada Dow Jones Islamic Indeks jauh sebelum Indonesia yang notabene adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Jadi sekarang selamat berinvestasi reksadana syariah, jangan lupa tentukan profil resiko anda, tentukan tujuan keuangan dan jangka waktu investasinya setelah itu mulailah lakukan investasi beerdasarkan klasifikasi diri anda sesuai butir butir diatas dan selamat menikmati hasilnya. Jadikan syariah sebagai way of life apapun suku anda, apapun agama anda dan suku anda. Kecil bersenang-senang, muda bekerja & investasi, tua sejahtera.

Sabtu, 01 Juni 2013

Tips Mengetahui Kinerja dan Memilih Reksadana

Sebelum berinvestasi di reksadana, pastinya Anda harus mengetahui bagaimana kinerja reksadana yang akan Anda pilih. Beberapa cara yaitu antara lain dengan membaca prospektus, mengetahui track record MI, dan dari kinerja Nilai Aktiva Bersih (NAB) harian reksadana.



Infovesta
Website infovesta (www.infovesta.com) menyediakan daftar reksadana yang cukup lengkap yang ada di Indonesia. Anda bisa mengetahui pertumbuhan reksadana dalam kurun waktu 1 hari, 1 bulan, 1 tahun, dan 3 tahun. Website ini bisa dijadikan langkah awal Anda untuk memilih reksadana.


Bloomberg
Website Bloomberg (www.bloomberg.com) menyediakan seluruh informasi mulai dari saham, reksadana, deposito, hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Untuk reksadana di Indonesia bisa diakses dari menu Market data > Mutual Funds > Mutual Fund Screener. Kemudian pilih Indonesia untuk Country of listing. Sedangkan pilihan lainnya bisa Anda abaikan, atau Anda atur untuk mempersempit pencarian.


Selanjutnya akan tampil daftar seluruh reksadana di Indonesia. Klik salah satu reksadana untuk melihat detail, mulai dari chart, kinerja, dan informasi umum seperti kapan reksadana tersebut dibentuk, dan kontak yang bisa dihubungi.

(klik gambar untuk memperbesar)

Bloomberg juga menyediakan interactive chart, dimana Anda dapat menambahkan reksadana lain sebagai perbandingan.

(klik gambar untuk memperbesar)

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memilih reksadana yaitu:


  1. Reksadana tersebut harus dikeluarkan oleh Manager Investasi yang bonafit dan dapat dipercaya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.
  2. Kinerja reksadana harus termasuk dalam 10 terbaik di sisi return dalam kurun waktu 3 tahun terakhir secara konsisten mengalahkan atau hampir sama dengan performance indeks pembanding. Biasanya sebagai pembanding digunakan performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
  3. Mempunyai Fee yang competitive (entry, switch & redeem). Ada beberapa reksadana yang membebaskan fee masuk dan keluar, biasanya dengan syarat dana Anda sudah berumur minimal 1 tahun.
  4. Kemudahan untuk pembelian dan penjualan unit. Beberapa reksadana sudah menerapkan pembelian secara online, maupun debet otomatis dari rekening bank tiap bulan. Hal ini menguntungkan sebab Anda tidak perlu repot lagi harus mendatangi kantor/agent tempat reksadana tersebut dijual.


Sabtu, 04 Mei 2013

Mengenal Jenis-Jenis Investasi Reksadana

Reksadana merupakan investasi yang paling mudah, murah dan tanpa perlu banyak berpikir. Mudah karena Anda hanya perlu datang ke Bank agen penjual reksadana, murah karena Anda bisa investasi mulai dari 100 rb per bulan dan tanpa perlu banyak berpikir karena manager investasi yang mengatur portofolio investasi reksadana.


Prinsip sederhana dari investasi di reksadana adalah menitipkan uang kita kepada manager investasi untuk dikelola pada portofolio investasi. Dan Anda sebagai investor hanya perlu mengamati dan menikmati hasil investasi Anda.

Investasi reksadana terdiri dari beberapa macam menurut jenis portofolio atau alokasinya :
1. Reksadana pasar uang: deposito berjangka, SBI (Surat Bank Indonesia), Surat Utang
2. Reksadana pendapatan tetap: Surat Utang Negara/Perusahaan lebih dari 1 tahun, obligasi

3. Reksadana campuran: kombinasi antara obligasi dan saham
4. Reksadana saham: minimal 80% dialokasikan di efek ekuitas (saham)

Bagaimana memilih jenis reksadana yang tepat? Cara paling mudah adalah sesuaikan dengan lama periode dan tujuan investasi Anda:
1. Reksadana pasar uang 1-2 tahun
2. Reksadana pendapatan tetap 3-5 tahun
3. Reksadana campuran 6-10 tahun
4. Reksadana saham >10 tahun

Berapa pertumbuhan investasi di reksadana? Nah ini yang sulit dijelaskan karena banyak faktor yang mempengaruhi tetapi secara garis besar asumsi yang banyak digunakan adalah :
1. Reksadana pasar uang : 5-7% p.a
2. Reksadana pendapatan tetap : 7-10% p.a
3. Reksadana campuran : 10-15% p.a
4. Reksadana saham : 10-20% p.a

Yang perlu diingat adalah semakin tinggi imbal hasil, maka semakin tinggi pula resiko yang Anda terima (high risk, high return).

Selasa, 23 April 2013

Ketahui Profil Risiko Investasi Anda

Sebelum anda berinvestasi dahulu di reksadana, ada baiknya anda mengetahui dahulu profil risiko anda. Mengapa hal ini perlu? Agar anda dapat mengetahui tujuan investasi, seberapa besar tingkat risiko yang mampu anda hadapi, strategi investasi, dan produk investasi apa yang cocok untuk anda.


Berikut ini kuisioner singkat untuk mengetahui profil risiko anda.

1. Manakah diantara pernyataan dibawah berikut ini yang menggambarkan tingkat kenyamanan anda dalam menerima risiko investasi?
a. Saya tidak rnenyukai risiko dan tidak siap menerima hasil investasi yang negatif.
b. Saya bisa rnenerima risiko fluktuasi investasi dalam jangka pendek, selama tetap terkendali dan dalam trend pertumbuhan yang positif.
c. Saya bersedia menghadapi risiko fluktuasi yang tinggi guna mendapatkan pertumbuhan nilai investasi yang besar dalam jangka panjang.

2. Manakah pernyataan yang paling tepat untuk menggambarkan tujuan anda dalam berinvestasi?
a. Untuk memperoleh pendapatan berkala yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
b. Untuk memperoleh pendapatan berkala namun sekaligus dapat memperoleh pertumbuhan atas nilai investasi.
c. Untuk memperoleh pertumbuhan nilai investasi yang maksimal dalam jangka panjang.

3. Bagaimana pandangan anda mengenai kemungkinan anda kehilangan sebagian dari pokok investasi anda?
a. Saya tidak ingin menderita kerugian apapun dari investasi saya, karena akan mengganggu pendapatan bulanan saya.
b. Saya dapat menerima atas kemungkinan adanya resiko kerugian akibat dari fluktuasi investasi karena saya melakukan investasi jangka panjang.
c. Saya tidak berkeberatan dengan kemungkinan menderita kerugian karena saya telah menyediakan dana cadangan untuk kebutuhan rutin saya.

4. Berapa lama jangka waktu yang akan anda berikan agar uang anda berkembang?
a. Kurang dari 2 tahun.
b. Antara 2 sampai dengan 5 tahun.
c. Lebih dari 5 tahun.

5. Selama kurun waktu investasi tertentu nilal investasi anda dapat mengalami kenaikan atau penurunan. Seberapa besar tingkat fluktuasi yang dapat anda terima?
a. Antara -10% dan +10%
b. Antara -20% dan +20%
c. Antara -30% dan +30%

6. Dari keseluruhan harta (asset) yang anda miliki, berapa persen yang anda rencanakan untuk diinvestasikan dalam reksadana?
a. Kurang dari 35%
b. Antara 35% sampai 70%
c. Lebih dari 70%

7. Dalam investasi anda apakah anda membutuhkan aliran kas investasi yang bersifat reguler?
a. Va, setiap bulan.
b. Ya,setiap 6 bulan.
c. Tidak, saya tidak membatasi kurun waktu aliran kas, namun lebih berkonsentrasi pada tingkat imbal hasil.

8. Pada saat ini, seberapa jauh pemahaman Anda terhadap produk Reksa Dana dan industrinya?
a. Saya hanya mengetahui namun hanya terbatas bahwa Reksa Dana berbeda dengan produk-produk perbankan, dan di dalamnya mengandung risiko.
b. Saya cukup memahami mekanisme kerja Reksa Dana dengan baik, dan mengetahui perbedaan dari masing-masing jenis Reksa Dana.
c. Saya sangat memahami mekanisme kerja Reksa Dana, lembaga-Iembaga terkait seperti Bank Kustodian, Manajer Investasi, dan Bapepam-LK serta jenis-jenis produk Reksa Dana yang ada.

Setelah anda menjawab semua pertanyaan di atas, hitung total nilai anda dengan cara:

  • jika menjawab a mendapat nilai 20
  • jika menjawab b mendapat nilai 100
  • jika menjawab c mendapat nilai 200

Dari nilai tersebut cek tipe profil anda di bawah ini.

Tipe I. Konservatif ( Nilai < 320)
Investor kategori ini masih mementingkan tingkat keutuhan nilai pokok investasi, dan sangat rentan terhadap fluktuasi hasil investasi dan membutuhkan cash flow bulanan. Jenis investasi yang sesuai untuk kategori ini adalah instrumen Pasar Uang seperti Reksa Dana Pasar Uang dan Reksa Dana Pendapatan Tetap.

Tipe II. Konservatif Moderat ( Nilai antara 330 sampai 550)
Investor kategori ini masih tetap mementingkan pada keutuhan nilai pokok investasi, tetapi mulai bersedia untuk menerima fluktuasi investasi dalam jangka pendek untuk mendapatkan hasil yang lebih baik daripada produk reguler perbankan. Investor ini juga membutuhkan cash flow dalam setiap kurun waktu menengah ( 6 bulan ). Investor dalam kategori ini sebaiknya berinvestasi pada Reksa Dana Pasar Uang sebagai instrumen utama, dan sebagian pada Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan sedikit alokasi pada Reksa Dana Saham.

Tipe III. Moderat Agresif (Nilai antara 540 sampai 740)
Investor kategori ini mulai bersedia mencoba alternatif investasi yang berpotensi memberikan hasil yang lebih tinggi meskipun mengandung resiko dan fluktuasi atas nilai investasinya. Investor dalam kategori ini sebaiknya berinvestasi pada Reksa Dana Pendapatan Tetap sebaqai instrumen utama dan dikombinasikan sebagian pada Reksa Dana Campuran dan atau Reksa Dana Saham.

Tipe IV. Agresif (nilai > 750)
Investor kategori ini mengutamakan pada bagi hasil yang tinggi pada investasi mereka, dengan kesiapan menerima fluktuasi yang akan timbul. Kesiapan menerima resiko ini didukung pula oleh pola investasinya yang berorientasi jangka panjang. Jenis investasi yang sesuai dengan investor dalam kategori ini adalah kombinasi antara Reksa Dana Campuran dan Reksa Dana Saham.


Produk/Tipe I II III IV
Reksa Dana Pasar Uang 10% 10% 5% 5%
Reksa Dana Pendapatan Tetap 75% 65% 50% 40%
Reksa Dana Campuran 10% 15% 20% 25%
Reksa Dana Saham 5% 10% 25% 30%


Rabu, 03 April 2013

Strategi Investasi Reksadana

Berinvestasi dalam Reksadana walau tidak serumit berinvestasi di pasar saham namun juga memiliki beberapa strategi yang bisa diterapkan. Bagi yang sudah profesional bisa menggunakan beberapa teknik analisa pasar. Namun untuk sekarang saya ingin mencoba membagikan beberapa strategi sederhana untuk memaksimalkan keuntungan investasi reksadana Anda.


1. Strategi 'tutup mata' cukup invest sekali dan simpan dalam jangka waktu yang panjang disebut Lump Sum.

2. Strategi investasi secara berkala, cocok bagi yang berpenghasilan tetap.
- dengan nominal investasi tetap disebut Dollar Cost Averaging (DCA).
- dengan membeli jumlah unit reksadana yang sama disebut Constant Share (CS).
- dengan jumlah tertentu memiliki tujuan pertambahan nilai investasi atau prosentase yang tetap disebut Value Averaging (VA).

1. Lump Sum

Adalah strategi investasi dengan menempatkan seluruh dana kita pada produk reksadana di awal.

Keuntungan dari strategi ini adalah kesederhanaanya, bilamana kita yakin bahwa investasi reksadana kita akan bertumbuh positif ke depannya maka kita akan tempatkan seluruh dana ke dalam reksadana tersebut.

Bagaimana bila kinerja investasi tidak sesuai dengan keinginan kita? Ada beberapa pilihan yang bisa diambil:
- Hold, dengan pertimbangan reksadana tsb akan kembali sesuai harapan investor.
- Switch, investasi kita pindahkan ke produk reksadana yang berbeda.
- Redeem, jual unit reksadana dan masuk kembali disaat yang menurut kita lebih sesuai.

2. Dollar Cost Averaging (DCA)

Adalah strategi dalam berinvestasi yang paling sering digunakan karena kesederhanaan dan cukup efektif dalam menurunkan rata-rata modal dari pembelian unit reksadana kita. Jangan bingung dengan kata-kata 'Dollar' karena strategi ini cocok di segala jenis mata uang termasuk Rupiah.

Caranya adalah melakukan investasi secara berkala dengan jumlah dana yang sama pada setiap kali investasi (misalnya: Rp.5 juta per bulan atau Rp.25 juta per kuartal) pada satu produk reksadana.

Strategi sederhana ini sangat efektif dimana kita invest lebih banyak saat harga rendah dan lebih sedikit saat harga tinggi.

Ilustrasi:
1. Target kita adalah investasi Rp.25 juta (jumlah yg tetap) per kuartal/3 bulan (jadwal yang tetap). Kita invest Rp.5 juta saat nilai NAB 2200, kemudian Rp.10 juta saat nilai NAB 2150 dan Rp.10 juta saat NAB 2100.
2. Bila kita lakukan di reksadana saham dan melakukan investasi berdasarkan IHSG yang berkorelasi dengan RDS. Bisa kita invest dengan jumlah diatas setiap nilai indeks minus 50 poin dengan tidak melewati jadwal yang kita tetapkan sendiri.


3. Constant Share (CS)

Ini strategi yang mudah dijelaskan. Investasikan dana untuk membeli reksa dana secara berkala dengan pembelian jumlah unit RD yang sama. Perbedaannya dengan DCA jika CS melakukan investasi bukan dengan jumlah dana yang sama tapi membeli jumlah unit RD yang sama secara berkala.

Misalkan kita menargetkan akan melakukan investasi: setiap kali top up adalah 100 unit per 3 bulan, sama seperti strategi DCA diatas bisa kita bagi jumlah tersebut mejadi 3x top up dan membeli jumlah unit lebih banyak saat harga NAB lebih murah.

4. Value Averaging (VA)

Tujuan strategi ini adalah agar pertambahan nilai (value) investasi kita adalah tetap. Bisa dihitung dalam rupiah ataupun persentase.

Pertumbuhan investasi dalam nilai yang tetap
Bila kita berencana investasi dg target setiap bulan akan bertambah 10 juta rupiah, maka diatur pertumbuhan nilainya tetap sebesar Rp.10 juta.

Bila nilai investasi kita pada bulan ini bertumbuh Rp.1 juta maka kita cukup top up Rp.9 juta.
Bila nilai investasi kita pada bulan ini berkurang Rp.500rb, maka kita harus top up Rp.10,5 juta, dan dilanjutkan untuk periode-periode selanjutnya

Pertumbuhan investasi dalam persentase yang tetap
Perhitungan menggunakan persentase biasanya dilakukan untuk menjaga peningkatan investasi kita terhadap inflasi (turunnya nilai mata uang), dan memiliki efek compound interest.

Jadi bila kita berencana investasi dengan target setiap bulan akan bertambah 10%, maka diatur pertumbuhan nilainya tetap sebesar (1+10%) x investasi pada awal bulan I, dan seterusnya.

Bila nilai investasi kita pada akhir bulan bertumbuh 2% maka kita cukup top up 8%
Bila nilai investasi kita pada bulan ini minus 1% dibandingkan awal bulan, maka kita harus top up 11%.. dan dilanjutkan untuk periode-periode selanjutnya.