BEI Terapkan Aturan Baru Fraksi Harga Saham

Per tanggal 2 Mei 2016 BEI terapkan lima fraksi harga saham.

Mengenal Berbagai Tipe Investor

Anda termasuk tipe investor yang mana?

Tips Sebelum Pindah Bank KPR

Perhitungkan secara teliti apabila Anda akan memindahkan KPR ke bank lain.

Mesiasati Harga Jual-Beli Ketika Menjual Emas

Bagaimana menyiasati selisih/spread harga jual-beli emas ini agar kenaikan sesungguhnya yang akan kita peroleh tidak berkurang banyak?

Tips Menggunakan Kartu Kredit

Berikut ini informasi dan tips bagi Anda yang mempunyai atau ingin memiliki kartu kredit.

Tampilkan postingan dengan label manajemen finansial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen finansial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Maret 2017

Waspadai Sering Gestun Kartu Kredit

Gesek tunai atau yang biasa disebut dengan “Gestun” seringkali dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia saat ini. Dengan melakukan gestun ini, pemegang kartu kredit seolah-olah berbelanja lewat merchant kartu kredit, tapi yang di peroleh bukanlah barang, melainkan uang. Lalu mengapa masyarakat lebih banyak memilih mengambil uang tunai dengan menggesek kartu kredit di merchant daripada lewat mesin ATM?



Gesek tunai biasa dilakukan di merchant-merchant tertentu yang menyediakan transaksi gestun tersebut. Gestun sendiri merupakan suatu transaksi menarik sejumlah uang dengan cara menggunakan kartu kredit di merchant-merchant kartu kredit yang menyediakan layanan gesek tunai. Biaya yang dikenakan merchant pun lebih murah dibandingkan tarik tunai langsung di mesin ATM.

Karena alasan seperti inilah yang memberikan sinyal kepada pebisnis handal untuk memanfaatkan peluang sehingga bisnis gesek tunai marak di lakukan oleh banyak orang. Semakin berkembangnya penggunaan kartu kredit di sebuah kota, semakin menjamur bisnis tarik tunai kartu kredit seperti ini. Tidak bisa dihentikan atau ditiadakan.

Banyak pemegang kartu kredit yang terjebak dengan utang karena praktek gesek tunai alias gestun kartu kredit. Dengan kemudahan menggesek kartu kredit, mereka terlalu terlena mendapatkan uang tunai secara mudah, kegiatan gali lubang tutup lubang dan akhirnya tidak mampu membayar tagihan kartu kredit bahkan tak mampu membayar tagihan minimum.

 Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Darmadi Sutanto‎‎ mengungkapkan, hobi berisiko ini dapat menyeret pelakunya atau yang biasa disebut gestuner dengan beban utang yang akan semakin membengkak. “Gesek Tunai itu kesannya bisa dapat uang dengan mudah tanpa kita harus berkeringat. Namun perlu diingat, pada dasarnya uang yang ditarik tersebut bukanlah uang tabungan atau uang dari sumber pendanaan nyata. Itu adalah utang yang harus dibayar pemilik kartu,” ujar Darmadi. 

Selain sifatnya yang berupa utang, dana hasil gestun inipun bukanlah dana murah. Utang yang sifatnya kredit konsumtif ini memiliki bunga yang tidak kecil yakni sekitar 2-2,2% per bulan atau 24-32% per tahun. Disarankan untuk menghindari praktek gestun, harus lebih bijaksana dan berhati-hati dalam menggunakan fasilitas gestun ini, karena salah penggunaannya akan membawa Anda ke dalam bencana.

Rabu, 16 November 2016

Amankah Pinjaman Uang Tunai Secara Online

Saat ini jasa pinjaman uang tunai secara online mulai menjamur. Hal ini menunjukkan tingkat permintaan di Indonesia yang tinggi terhadap pinjaman uang tunai secara instan dan cepat. Tetapi apakah fenomena ini memang benar membantu masyarakat ataukah justru malah merugikan.


Dari hasil cek beberapa situs online yang menyediakan pinjaman uang tunai, rata-rata meminjamkan uang antara 2 juta hingga 10 juta rupiah. Untuk skema pengembalian fleksibel hingga satu tahun. Biaya administrasi bervariasi, antara 50 ribu hingga 200 ribu rupiah. Sedangkan bunga yang dibebankan rata-rata 3% per bulan atau hingga 36% per tahun!

Cukup dengan melihat dari pola biaya administrasi dan bunga yang tinggi, sistem pinjaman tunai ini tak ubahnya sama seperti hutang dengan kartu kredit. Tetapi dengan kemudahan yang ditawarkan cukup menggoda masyarakat yang membutuhkan uang instan. Hanya dengan modal KTP dan slip gaji saja tanpa perlu agunan, pinjaman sudah bisa didapatkan hari itu juga. Sangat jauh berbeda dengan pinjaman melalui bank yang harus melalui prosedur dan pencairan yang lama, belum lagi resiko aplikasi ditolak.

Layanan pinjaman tunai ini jelas sekali tidak menguntungkan karena beban bunga yang amat tinggi. Selain itu juga akan sangat mengganggu keuangan Anda, jika tidak tepat waktu melunasi hutang. Oleh karena itu pinjaman ini tidak disarankan. Jika Anda memang sedang membutuhkan uang tunai lebih baik Anda mencari alternatif lain yang sesuai dengan kemampuan finansial Anda dan tidak menimbulkan masalah besar di kemudian hari.

Senin, 06 April 2015

Siapa yang Membutuhkan Asuransi Jiwa


Ada beberapa anggapan keliru dari orang Indonesia mengenai asuransi jiwa, diantaranya asuransi yang sia-sia, tidak menguntungkan, dan masih banyak komentar lain yang justru mengakibatkan orang bersikap antipati terhadap semua produk asuransi. Bahkan di salah satu artikel di majalah Gemari dikatakan bahwa “Orang Indonesia cenderung konsumtif, tidak memikirkan bagaimana nantinya. Sehingga kesadaran memiliki asuransi masih kurang.


Hanya sedikit orang di Indonesia yang menyadari bahwa mengasuransikan diri merupakan bagian penting dari kehidupan. Hal ini bisa dipahami, karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih harus bergelut dengan permasalahan bagaimana memenuhi kebutuhan primernya (makan, sandang dan papan).

Sebenarnya tidak semua orang butuh asuransi jiwa. Anda harus mengetahui kondisi Anda dahulu sebelum memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa. Berikut beberapa pedoman yang bisa jadi patokan:

1. Ada tanggungan
Definisi tanggungan di sini adalah ada orang yang biaya hidupnya ditanggung dari penghasilan Anda. Dan ini tidak melulu harus diartikan sebagai anak dan istri, bisa jadi orang tua, atau saudara. Kalau memang butuh asuransi, perhitungkan jumlah pertanggungan yang mencukupi. Perkirakan apakah dana pertanggungan yang Anda dapat nanti itu cukup untuk membiayai biaya hidup semua orang yang menjadi tanggungan Anda selama paling tidak 10 tahun ke depan.

2. Ada kewajiban hutang
Selain tanggungan, parameter lainnya adalah kewajiban (hutang), terutama kredit yang bernilai besar (kredit mobil atau rumah). Asuransi jiwa penting agar kerabat Anda tidak mendapat beban hutang apabila seandainya Anda mendapat musibah. Pihak asuransi akan meng-cover kewajiban hutang Anda sehingga tidak merepotkan keluarga Anda.

Selasa, 24 Maret 2015

Mengatasi Hutang Kartu Kredit Melilit

Jika Anda yang saat ini merasa gundah, bahwa hutang Anda sudah menumpuk begitu banyak, padahal Anda tahu bahwa Anda harus menyisihkan sebagian uang untuk mengantisipasi kondisi tak terduga (dana darurat) selama 3 – 6 bulan, berinvestasi untuk masa depan, membeli asuransi dan menyiapkan pensiun. Tetapi saat ini hal tersebut hampir tidak mungkin dilakukan karena hampir separuh dari penghasilan Anda digunakan untuk membayar cicilan hutang kartu kredit yang tidak pernah usai. Apa yang harus dilakukan?



Berikut beberapa tips ringan yang akan membantu Anda dalam menyelesaikan masalah hutang.

1. Berhenti menambah hutang kartu kredit anda. 
Masalah hutang menjadi lebih ringan di awali dari langkah sederhana namun penting ini. Tahukah Anda penyebab utama orang menggunakan kartu kreditnya adalah karena kartu kreditnya ada di dalam dompet yg dengan mudah dikeluarkan dan digunakan. Coba Anda tinggalkan kartu kredit itu di rumah dan simpan dalam lemari. Dengan cara ini Anda sudah menutup satu pintu kemudahan dalam menggunakan kartu kredit.

2. Kurangi jumlah kartu kredit anda. 
Anda tidak membutuhkan lebih dari 2 kartu kredit. Setiap kali menawarkan kartu kredit baru pihak bank akan merayu Anda dengan memuji Anda sebagai nasabah pilihan dan sebagainya. Tetapi, ketika Anda dalam kesulitan, bukan pujian yang anda dapatkan tetapi masalah dengan pihak bank. Cermatlah dalam menerima tawaran kartu kredit, jika tidak Anda butuhkan tegaskan diri Anda untuk berkata tidak. Dengan membatasi jumlah kartu kredit Anda, juga membatasi jumlah hutang Anda dan kebebasan berhutang. Jika sudah terlalu besar maka limit kartu kredit akan membatasi gerakan Anda. Jangan tembus limit kartu kredit karena Anda akan harus membayar bunga yang lebih tinggi lagi.

3. Buat anggaran bulanan. 
Catat pengeluaran dan penghasilan Anda setiap bulannya. Buat agar penghasilan Anda cukup memadai untuk satu bulan tanpa harus menggunakan kartu kredit lagi. Kemudian buat anggaran untuk satu tahun berdasarkan data bulan-bulan sebelumnya. Jika ada surplus, rencanakan untuk membaginya dalam 12 bulan sebagai tambahan pembayaran cicilan hutang Anda. Dan jika defisit anggaran, maka Anda harus mengatur kembali agar cukup memadai.

4. Hindari pembayaran minimal. 
Tahukah Anda kenapa pihak bank menetapkan pembayaran minimal yang sangat rendah untuk kartu kredit? Agar Anda terus membayar bunganya saja yang berperan sebagai sumber penghasilan bank, sedangkan pokok hutangnya sangat pelan sekali berkurangnya. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melunasi penggunaan kartu kredit Anda jika membayar dalam jumlah minimal. Begitu ada dana lebih, segera bayarkan untuk mengurangi hutang. Dan bayarkan dalam jumlah yang tetap, seolah-olah Anda membayar iuran bulanan yang tidak berubah.

5. Miliki target pelunasan hutang. 
Miliki kekuatan target agar Anda mengerti kapan hutang Anda harus berakhir. Yang harus disadari adalah masalah hutang Anda mungkin tidak akan selesai dalam waktu semalam, tapi pasti akan berakhir dengan berjalannya waktu. Jadi, tetaplah semangat dan optimis dan nikmati prosesnya.

6. Buat rencana menabung. 
Dengan adanya rencana menabung, Anda tahu bahwa jika rencana penyelesaian hutang Anda gagal, maka Anda tidak bisa naik ke tingkat berikutnya, yaitu menabung dan berinvestasi. Semakin lama Anda menunda berinvestasi dan menabung, semakin dalam problem keuangan Anda . Untuk ini Anda bisa menggunakan bantuan perangkat lunak keuangan untuk membuat perhitungan sederhana Anda, atau juga bisa Anda konsultasikan dengan perencana keuangan.

Kamis, 14 November 2013

Tips Agar tidak Kebablasan Pakai Kartu Kredit

Salah satu penyebab 'kebablasan' keuangan bagi masyarakat adalah penggunaan kartu kredit yang tidak bijak. Banyak orang berpikir kartu kredit adalah tambahan penghasilan, padahal fungsi aslinya adalah 'dana pinjaman'. Dengan fungsi dana pinjaman, Anda harus membayar kembali dan disertai dengan biaya bunga.


Agar gaji Anda tidak melulu habis, lakukan perencanaan keuangan selama 1 bulan ke depan. berikut beberapa tips:
  • Buat rencana sampai akhir bulan. Bagi uang untuk kebutuhan rutin bulanan (Living), dana darurat & investasi (saving), dan gaya hidup.
  • Pastikan rekening Saving langsung dapat jatah maksimal H+3 dari tanggal gajian.
  • Buat rekening Living, pertimbangkan pakai e-money. Anda bisa kontrol pengeluaran dengan mengisi saldo sesuai anggaran. E-money bisa berbentuk toll-card, paycard, dan lainnya. Biasanya ada promo juga jadi bisa lebih hemat.
  • Ambil tunai ke ATM hanya 1 kali seminggu. Untuk kebutuhan lain, gunakan kartu debit.
  • Kartu kredit boleh dipakai, hanya kalau Anda punya uang untuk bayar lunas tagihan bulan depan.
  • Apakah Anda layak punya kartu kredit? Coba cek, kalau masih ada kebiasaan bayar biaya keterlambatan dan biaya bunga, lebih baik Anda menutup kartu kredit Anda.

Bagaimana jika tagihan utang kartu kredit sudah terlanjur besar? Ikut tips berikut:
  • Hentikan penggunaan kartu kredit untuk hal-hal konsumtif yang langsung habis, misalnya belanja makanan, belanja minuman, tiket nonton, atau pun paket liburan. Bila Anda ternyata tidak sanggup bayar, pembelian ini tidak dapat dijual kembali.
  • Usahakan bayar lebih dari tagihan minimum. Ternyata, masih banyak pengguna kartu kredit yang tidak mengetahui bahwa Anda boleh membayar di atas tagihan minimum bahkan boleh dilunasi. Semakin besar pembayaran, maka semakin kecil biaya bunga yang mungkin dibebankan.
  • Hentikan penggunaan kartu kredit saat mendekati batas limit. Alangkah tidak bijak apabila Anda membuat kartu kredit baru di saat kartu kredit yang ada saat ini sudah masuk batas limit penggunaan.

Kamis, 04 Juli 2013

Bijak Menentukan Jumlah yang Harus Ditabung

Menabung merupakan aktifitas yang terkadang sulit kita lakukan. Karena setiap orang akan berbeda-beda biaya kebutuhan sehari-harinya. Terkadang, penghasilan yang diperoleh pun, tidak mencukupi kebutuhannya selama sebulan. Hingga pada akhirnya besar pasak daripada tiang.


Sebelum Anda menentukan berapa jumlah uang yang harus ditabung, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut.

1. Bentuk anggaran pengeluaran bulanan Anda
Pembentukan anggaran pengeluaran bulanan anda akan sangat membantu Anda memberikan guidance ke pos-pos apa saja yang sebenarnya lebih saya butuhkan dalam waktu sebulan. Skala prioritas menjadi landasan utama dalam memanage keuangan Anda sehingga Anda dapat mulai melakukan kebiasaan menabung.

2. Pastikan cashflow Anda dalam keadaan positif
Ketika cashflow dalam keadaan positif ini dapat memberikan gambaran berapa sih sisa penghasilan yang Anda peroleh setiap bulannya.

3. Tentukan tujuan
Penentuan tujuan menabung Anda dapat memberikan motivasi Anda lebih tinggi untuk disiplin dalam menabung. Misalnya, Anda ingin menikah 4 tahun lagi. Biaya menikah sekarang 50 juta. Nah Anda akan termotivasi untuk mencapai tujuan keuangan yang Anda telah tetapkan jangka waktunya.

Sebaiknya Anda tidak hanya menabung saja. Karena nilai uang ril saat ini lebih berharga daripada esok hari. Kondisi tersebut terjadi karena nilai uang yang akan datang akan tergerus oleh inflasi. Nah lebih baik, pola menabung tersebut diubah menjadi kebiasaaan berinvestasi untuk mengalahkan nilai inflasi yang dapat mengerus kekuatan ril uang yang Anda peroleh selama ini.

Setiap orang mempunyai jumlah tabungan dan investasi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka. Literatur di luar negeri mengatakan minimum tabungan & investasi adalah 10% dari jumlah penghasilan.

Sayangnya di Indonesia jumlah tersebut tidak cukup dikarena rata-rata inflasi 15 tahun terakhir yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, idealnya minimum yang disisihkan (tabungan & investasi) adalah 15% dari penghasilan. Adapun jumlah maksimal tidak ada alias sebanyak-banyaknya. Sudah barang tentu investasi jauh lebih baik dari menabung karena bisa "menambah" aset Anda.

Selasa, 11 Juni 2013

Pentingnya Perencanaan Keuangan


Financial Plan atau Perencanaan Keuangan menjadi bagian penting dalam kehidupan Anda. Berikut beberapa alasan penting mengapa kita membutuhkan sebuah Perencanaan Keuangan.



1. Membedakan mana kebutuhan dan keinginan.
Gagalnya mencapai tujuan keuangan karena tidak adanya skala prioritas dalam keuangan. Hal ini dikarenakan tidak adanya penegasan mana kebutuhan maka keinginan. Semua keinginan dianggap kebutuhan. Perencanaan Keuangan membantu kita menentukan mana yang perlu mana yang ingin.

2. Memenuhi kewajiban dan sedekah.
Perencanaan Keuangan membantu kita untuk disiplin membayar perpuluhan, zakat, ataupun sedekah. Semakin cermat kita melakukan perencanaan keuangan, maka semakin konsisten dan kontinu juga kita berbuat banyak untuk memberi dukungan finansial kepada banyak orang.

3. Sederhana dan sejahtera.
Perencanaan Keuangan membuat kita hidup bisa sesuai standart penghidupan yang layak. Tidak foya-foya dan tidak terlalu sengsara/defisit tiap akhir bulan.

4. Hemat dan hebat.
Ada istilah penghasilan meningkat kebutuhan meningkat pula. Penghasilan yang meningkat cenderung membuat kita menjadi konsumtif, ditambah lagi dengan benefit lain, fasilitas kantor (gadget, kendaraan, rumah dinas, asuransi, dll) bonus, uang lembur, uang makan, THR, dll. Perencanaan Keuangan membantu kita mengelolanya dengan bijak, sehingga kita tetap hemat dan hebat dalam bergaya dan tetap produktif.

5. Melindungi diri kita dan keluarga dari risiko keuangan.
Dalam siklus hidup ada masa-masa naik dan turunnya tingkat kehidupan, dimana situasi kehidupan tersebut berhubungan dengan uang. Naik turunnya situasi keuangan masih dapat diatasi dengan bantuan perencanaan keuangan. Masalah-masalah penting & darurat yang berhubungan dengan keuangan : PHK, sakit, cacat, kematian kepala keluarga sebagai sumber pendapatan.

6. Melunasi utang.
Masih banyak diantara kita yang juga memiliki hutang yang besar, terutama hutang konsumtif. Sangatlah keliru jika tiap bulan investasi mengumpulkan aset tapi menumpuk hutang yang bunganya lebih tinggi dari hasil investasi kita. Menyelesaikan hutang adalah hal yang paling penting di dalam sebuah Perencanaan Keuangan yang dimiliki.

7. Biaya membesarkan anak-anak.
Setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Porsi yang cukup besar di dalam anggaran rumah tangga adalah biaya untuk membesarkan anak-anak. Biaya yang paling besar adalah biaya pendidikan sejak memasuki persiapan sekolah (pre-school) hingga perguruan tinggi. Jika biaya kuliah saat ini adalah Rp 50 juta, dengan adanya inflasi maka, dalam 15 tahun biaya tersebut menjadi sekitar Rp 550 juta. Anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga-keluarga yang serba ada, penuh kasih sayang tetapi kurang disiplin, menghasilkan anak manja. Ada banyak alasan orang tua memanjakan anak, alasan klasik adalah orang tua kasihan dengan anak yang ditinggal sendirian dengan pembantu. Ada orang tua yang tergoda memanjakan anak karena trauma dengan masa lalunya yang sulit dan pahit. Akibat dimanjakan, akhirnya daya tahan stres anak-anak tidak terbangun dengan baik, mereka tidak dapat bedakan keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Hal yang menyiksa hidup (anak) kita sesungguhnya bukanlah kesusahan tetapi justru kesenangan (berlebih). Anak yang terbiasa hidup dengan disiplin dan hidup dengan kesusahan, justru lebih tahan banting dengan kesusahan.

8. Pembelian aset, dari kendaraan hingga rumah.
Perlu suatu solusi agar keinginan untuk membeli aset-aset dapat tercapai.

9. Membiayai pembelian polis Asuransi.
Untuk melindungi nilai ekonomis seseorang yang menjadi sumber pendapatan keluarga adalah dengan asuransi. Asuransi yang dimiliki harus cukup untuk membiayai kehidupan hingga masa depan keluarga yang ditinggalkan dapat terjamin. Perencanaan Keuangan penting untuk: 10. Menikmati pensiun dengan taraf hidup yang nyaman.

Semua orang tua pasti tidak ingin memberatkan kehidupan anak-anak. Perencanaan keuangan bisa mewujudkan keluarga yang mandiri secara finansial. Orang tua tidak jadi parasit, anak-anak tidak jadi perongrong.

Selasa, 07 Mei 2013

Tips Mengatur Keuangan Anda

Kebutuhan bulanan terpenuhi, bebas utang, dan mempunyai alokasi dana untuk investasi tentunya menjadi kondisi keuangan ideal yang diharapkan sebagian besar orang. Untuk mewujudkan kondisi tersebut tentunya pendapatan harus lebih besar dibandingkan dengan total pengeluaran, jangan sampai Anda dihadapkan dengan kondisi “Besar pasak daripada tiang”.


Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengatur pengeluaran Anda:

1. Ketahui jumlah pendapatan Anda
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah hitung total pendapatan Anda selama setahun terutama jika Anda masih bekerja sebagai Karyawan. Namun apabila ada freelance atau memiliki usaha sendiri, hitung jumlah yang Anda perkirakan akan diterima setiap bulannya kemudian dikalikan dengan 12.

2. Lacak dan kategorikan pengeluaran bulanan saat ini
Kalau harus menulis tiap rupiah yang kita belanjakan tentunya membuat kita menjadi malas. Banyak tersedia aplikasi untuk ponsel yang bisa mencatat dan memberikan laporan secara grafik kondisi keuangan Anda. Luangkan waktu untuk menganalisa pengeluaran beberapa minggu terakhir dan klasifikasikan sesuai dengan kategorinya (premier dan sekunder). Misalnya makanan, pengeluaran rumah tangga (air, listrik, telepon, dll).

3. Evaluasi dan mulai menyusun anggaran
Tahapan penting selanjutnya hitung total pengeluaran berdasarkan kategori yang sudah disusun. Apabila total pengeluaran lebih besar dibanding dengan pendapatan maka saatnya untuk mulai melakukan penyesuaian pengeluaran Anda pada kategori-kategori yang bisa disesuaikan. Misalnya selama ini anda menghabiskan Rp 300.000 untuk kategori hiburan (nonton, ngopi-ngopi, dll) maka kedepannya bisa mulai dikurangi 20-30 persen dengan mencari alternatif kegiatan lain yang tetap menghibur.

5. Lunasi hutang Anda
Setelah pengeluaran pokok utama sudah terpenuhi, jangan lupa untuk menyisihkan pendapatan Anda untuk bisa melunasi utang Anda (terutama utang-utang tidak produktif misalnya kartu kredit, cicilan elektronik, dll). Setiap tambahan rejeki atau uang ekstra sisihkanlah untuk melunasi cicilan utang Anda. Walaupun sedikit tentunya akan memberikan perubahan dalam jangka panjang untuk cashflow keuangan Anda.

6. Siapkan dana darurat
Keperluan-keperluan dadakan kerapkali datang pada saat yang tidak diharapkan. Terkadang ketika harus menghadapi kondisi tersebut kita tidak siap dan kewahalan. Oleh karena itu ada baiknya kita menyisihkan sebagian dari pendapatan kita untuk dana darurat. Tidak ada aturan baku berapa dana darurat yang harus disisihkan, sebagai gambaran kita bisa mulai menyisihkan setidaknya 4-6 kali dari pendapatan bulanan kita secara bertahap untuk disimpan sebagai dana darurat.

7. Sisihkan untuk investasi
Tidak bisa dipungkiri sebagian besar dari kita masih banyak yang cenderung membelanjakan terlebih dahulu pendapatan yang diterima dan sisanya baru disimpan untuk tabungan ataupun investasi. Akan lebih bijak jika kita bisa menyisihkan terlebih dahulu sebagian pendapatan sebelum kita belanjakan.

Minggu, 07 April 2013

Membentuk Kondisi Keuangan yang Sehat


Memiliki keuangan yang stabil dan sehat adalah idaman setiap orang. Sayangnya, tidak semua orang bisa mewujudkan keinginan ini. Memiliki kondisi keuangan yang baik sebenarnya mudah saja. Rahasianya terletak pada kemauan dan disiplin. Pada dasarnya, merencanakan keuangan itu tergantung pada kebijakan kita dalam mengalokasikan anggaran yang ada. Membuat rincian keuangan dan taat pada “aturan main” yang telah kita tetapkan.


Berikut beberapa tips untuk memulai melakukan perencanaan keuangan.


1. Lakukan secara bertahap.
Seperti latihan olah raga, kita tidak bisa terlalu drastis merubah gaya hidup kita dalam sekejap. Seperti orang yang tidak pernah olahraga yang langsung mencoba melakukan 100 push-up, kita juga tidak mungkin mendadak rubah gaya hidup untuk hemat 50% pengeluaran untuk dialokasikan pada investasi & asuransi.

Lakukan latihan penghematan secara bertahap supaya kita bisa melakukannya dengan lebih tenang dan nyaman. Jangan memberikan tekanan psikologis terlalu besar pada diri Anda ketika baru belajar menata keuangan pribadi. Tekanan terlalu besar akan membuat Anda stres dan mudah menyerah di tengah jalan memperbaiki kebiasaan mengatur uang. Bila Anda bisa mengatur keuangan Anda secara nyaman maka Anda akan cenderung lebih bahagia dan termotivasi untuk melakukannya secara jangka panjang

2. Lakukan secara fokus dan spesifik.
Untuk mempermudah kita maka sebaiknya kita fokus pada 1 atau 2 hal dahulu. Coba fokus pada kelemahan kita dahulu, misal klo kita terbiasa boros maka kita fokus dulu untuk mengurangi pengeluaran, atau klo kita belum punya asuransi padahal banyak orang yang hidupnya bergantung pada kita maka kita fokus dulu di asuransi jiwa, atau misalnya kita sama sekali tidak mempunyai tabungan maka kita fokus pada dana darurat dan investasi.
Dengan demikian kita bisa mengatur keuangan kita dengan lebih tenang dan tidak terlalu membebani gaya hidup kita sehari-hari.

3. Anggap sebagai tantangan.
Lakukan latihan mengelola keuangan pribadi secara konsisten agar menjadi habit atau kebiasaan. Pakar olahraga mengatakan bahwa untuk menjaga kebugaran tubuh dibutuhkan olahraga secara rutin dan konsisten. Demikian juga di keuangan kita harus mengatur keuangan kita secara konsisten agar kondisi keuangan kita selalu prima.


4. Jaga Arus Kas.
Buat yang mau belajar mengatur keuangan biar dompet makin tebel adalah Harus bisa Jaga Arus Kas! Arus kas terdiri dari dua hal: pemasukan dan pengeluaran. Di pengeluaran tentu saja Anda ingin membuat pengeluaran Anda se-optimal mungkin supaya lebih kecil dari pemasukan.

Selain itu gunakan acuan ini untuk mengukur kesehatan arus kas Anda:
a. Maksimum cicilan hutang adalah 30% dari pemasukan.
b. Maksimum premi asuransi adalah 10%-15% dari pemasukan.
c. Minimum penambahan alokasi ke investasi adalah 10% dari pemasukan.

5. Selalu monitor perkembangan investasi Anda.
Mungkin Anda beranggapan bahwa secara jangka panjang nilai investasi pasti akan naik, sehingga seandainya turun Anda berasumsi bahwa penurunan hanya sebentar saja. Padahal tidak selalu demikian! Perlu disadari bahwa tidak ada produk investasi apapun di dunia ini yang naik selamanya. Bahkan investasi ‘teraman’ pun, emas, pernah mengalami stagnan kurang lebih 25 tahun baru bisa menembus angka yang lebih tinggi. Jadi apapun produk investasi Anda, sebaiknya Anda selalu memonitor bagaimana perkembangannya.


Jumat, 29 Maret 2013

Mempersiapkan Dana Pendidikan


Salah satu institusi yang ikutan panen ketika anak masuk sekolah adalah pegadaian, baik institusi pemerintah maupun swasta. Mengapa? Karena ternyata orang tua tidak memiliki dana yang cukup untuk mendaftarkan anaknya sekolah, atau bahkan tidak punya uang sama sekali.

Resikonya, anak tidak didaftarkan ke sekolah berdasarkan kemampuan, minat dan bakat si anak, melainkan hanya berdasarkan kemampuan finansial orangtuanya saja. Padahal kenyataannya, umumnya sekolah yang baik berbanding lurus dengan biaya pendidikan yang tinggi, walaupun tidak selalu demikian.



Pada dasarnya orang tua cukup sadar tentang mahalnya biaya pendidikan yang mencekik. Hanya saja orang tua umumnya tidak sadar mengenai jumlah dana yang dibutuhkan saat anak memasuki jenjang pendidikan di masa depan. Akibatnya orang tua menempatkan investasi pendidikan di tempat yang kurang sesuai, bahkan hanya menyisihkan “seadanya” dari dana yang dimiliki atau hanya sekedar “yang penting punya” instrumen dana pendidikan.

Jadi, bagaimana sebaiknya? Siapkan sekarang juga! Hanya dengan perencanaan yang matang, orang tua bisa mendapatkan gambaran mengenai dana yang harus disediakan untuk pendidikan anak mereka di masa datang. Berikut langkah-langkah yang harus dipersiapkan oleh orang tua:

1. Tentukan visi pendidikan anak Anda
Anda tentunya memiliki mimpi akan menjadi apa anak Anda nantinya. Untuk mencapai mimpi itu, Anda tentunya harus menentukan pendidikan seperti apa yang harus diterapkan kepada anak Anda, apakah pendidikan yang menekankan pengetahuan agama (pesantren), pendidikan yang berbasis kompetensi internasional (sekolah dengan kurikulum internasional) atau pendidikan yang mendukung kemandirian anak (boarding school). Tujuan ini bukan hanya sekedar didiskusikan dengan pasangan, tetapi juga dituliskan pada sebuah catatan.  Bila perlu lengkapi dengan gambar masing-masing sekolah, sehingga Anda akan lebih mudah memvisualisasikan masa depan pendidikan anak Anda.

2. Cari informasi biaya pendidikan yang sesuai dengan visi Anda.
Biaya pendidikan ini tidak hanya mencakup uang pangkal, tetapi juga detail mengenai uang kegiatan tahunan, uang buku, uang seragam, SPP bulanan dan biaya-biaya lain yang dibebankan sekolah tersebut.  Bila memungkinkan, tanyakan pula biaya pendidikan mereka 2-3 tahun terakhir, sehingga Anda tahu persentase kenaikan biaya pendidikan di sekolah tersebut. Setiap sekolah tentunya memiliki kebijakan yang berbeda mengenai struktur biayanya. Dengan informasi yang detail, Anda akan lebih mudah merencanakan dana pendidikan anak Anda.

3. Mari berhitung
Hitung biaya pendidikan di masa depan sesuai dengan inflasi biaya pendidikan. Umumnya inflasi biaya pendidikan lebih kurang 10% untuk sekolah negeri dan 15-20% untuk sekolah swasta.  Kemudian tentukan dana yang harus dipersiapkan saat ini beserta strategi investasinya. Tentunya strategi ini sangat bergantung pada style Anda dalam berinvestasi. Beda pasangan, beda pula strateginya.

4. Penyesuaian
Sesuaikan dengan dana yang dimiliki saat ini. Bila ternyata mencukupi, maka rencana bisa langsung dijalankan. Bila ternyata kurang, maka Anda bisa merevisi sekolah yang dituju, atau membuat rencana cadangan agar sekolah yang dituju tetap tercapai.

Bersyukurlah bila Anda masih menantikan kelahiran si jabang bayi, artinya Anda memiliki waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkan dana pendidikan anak Anda. Tetapi bila anak Anda sudah besar pun, tidak ada salahnya untuk segera dimulai saat ini, sehingga Anda tidak perlu ikut-ikutan mencari pinjaman atau gadai di tahun ajaran berikutnya.

Minggu, 24 Februari 2013

Strategi Manajemen Keuangan

Uang bisa diibaratkan sebagai keran bocor jika tidak dikelola dengan baik. Uang hanya akan singgah sebentar di tabungan atau dompet Anda tanpa bekas apabila tidak tahu bagaimana pengelolaannya.


Berikut ini ada lima strategi manajemen uang yang dijelaskan oleh Bryan, Head of Business Development Kresna Securities.

1. Buat daftar "value".
Setiap orang mempunyai value atau nilai yang berbeda-beda. Ada yang menginginkan mobil ataupun rumah. "Di sini kita harus tahu apa yang kita mau," tutur Bryan.

2. Mengatur tujuan (mengacu pada nilai).
Di sini, ketika kita sudah mengetahui nilai apa yang ingin kita capai, selanjutnya adalah kita harus melakukan apa untuk mencapai nilai itu.

3. Menentukan pendapatan dan pengeluaran.
Di sini, kita membuat catatan pada pendapatan kita. Kita meninjau di mana uang atau pendapatan kita akan dikeluarkan. "Kita harus tahu pengeluaran kita di mana," ungkap Bryan.

4. Merencanakan anggaran.
Yang penting di sini adalah anggaran kita harus mencakup keperluan dulu, bukan keinginan. Pengeluaran kita harus kurang atau sama dengan total pendapatan.

5. Kembangkan uang Anda.
Pertama, Isilah dengan dana darurat. Dan dalam hal ini, terang Bryan, bisa dilakukan dalam bentuk produk asuransi yang dapat digunakan apabila sakit. Simpanlah uangmu sebisa yang Anda mampu setiap bulannya, dan temukan cara untuk menyimpan atau menginvestasikannya.